Belajar Memberi Meski Belum Kaya

Kepuasan itu relatif. Terkadang kita masih merasa belum cukup juga, meski pendapatan selalu meningkat dari waktu ke waktu. Kalau didatangi orang yang minta sumbangan, kita lantas berpikir “Buat saya sendiri saja masih kurang, bagaimana mau memberi orang lain?”

Sama seperti kepuasan, kemampuan itu juga relatif. Buktinya, banyak orang yang bisa beramal meskipun Ia tidak kaya dan dari segi ekonomi dia berada jauh di bawah kita. Coba simak perjalanan Kakek Asrori, Nenek Yati, dan Chen Shu-Chu berikut ini.

70 bungkus nasi dari kakek 91 tahun

Image Credit By sosok.kompasiana.com
Berawal dari akun Facebook milik Fajar Ali Imron Rosyidi, nama Kakek Asrori mulai dikenal publik secara luas. Awalnya tanggal 28 Februari 2014, Fajar mem-posting sebuah foto, disertai narasi yang cukup panjang. Ia menjelaskan bahwa ada seorang tetangganya yang setiap hari Jumat selalu membagikan 70 bungkus nasi kuning pada orang-orang di jalan. Usianya sudah 91 tahun, tetapi semangatnya untuk berbagi sangatlah besar. Setiap bulan, Ia mengumpulkan uang agar bisa bersedekah.

Sehari-hari, kakek Asrori adalah seorang tukang pijat dengan penghasilan tidak menentu. Meski demikian, Ia berhasil menyisihkan uang Rp 400.000 agar secara rutin bisa melakukan kebaikan tersebut. Tidak ada imbalan apapun yang Ia dapatkan, selain kabahagiaannya karena sudah berbagi. Alhasil, sejumlah media akhirnya ramai membicarakan sosok ini. Begitu juga sebuah acara TV yang pada Mei lalu akhirnya mengupas profil Kakek Asrori, sekaligus mengundang lelaki yang hidup sebatang kara ini.

Pemulung yang menyumbang 2 ekor kambing

Image Credit By www.tribunnews.com
Lain lagi ceritanya dengan seorang pemulung yang bernama Yati dari Tebet, Jakarta. Selama ini, Ia merasa dirinya miskin karena hanya bekerja sebagai pemulung. Setiap Hari Raya Idul Adha, Ia selalu menerima daging. Ia pun malu dan bertanya pada diri sendiri “Kapan saya bisa berkurban juga?” Pertanyaan ini lalu dijawabnya sendiri dengan menabung.

Meskipun penghasilan Ia dan suaminya maksimal hanya Rp 25.000 per hari, Ia tidak patah arang. Bahkan agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih banyak, setiap hari Ia berjalan 10 km sambil membawa barang yang dipungutnya dari berbagai tempat. Penyakit asam urat dan pegal linu yang Ia derita pun tidak memupuskan semangatnya. Setelah 3 tahun, harapannya menjadi nyata. Tabungannya Ia belikan 2 ekor kambing gemuk—bahkan tergemuk dari 27 kambing yang saat itu dikurbankan di masjid kawasan Tebet tersebut. Siapa yang menyangka seorang pemulung miskin bisa melakukan ini—hal yang belum tentu bisa kita lakukan.

Tukang sayur penerima penghargaan

Image Credit By www.taiwaneseamerican.org
Di Central Market kawasan Tai-tung, ada seorang penjual sayur yang tetap berjualan, meski hari telah siang. Dia adalah Chen Shu-Chu, seorang wanita separuh baya yang mendedikasikan hidupnya untuk para pelanggan. Setiap hari, tak ada hal lain yang mengusik pikirannya selain kepuasan pelanggan. Bahkan ketika diminta untuk datang langsung menerima penghargaan ke New York, Ia berusaha menolak hanya agar tetap bisa melayani pelanggan seperti biasa.

Penghargaan? Ya. Wanita yang usianya hampir 60 tahun ini adalah peraih TIME Award tahun ini. Dari sayur yang dijual seharga NT $ 30 per ikat, ia berhasil menyumbangkan US $ 321.550 atau setara dengan sekitar Rp 37 milyar. Semua uang itu Ia donasikan untuk sekolah, menyantuni anak yatim dan memberikan sumbangan ke sejumlah panti asuhan.

Apakah dia orang kaya? Bukan. Ia bukan pengusaha tajir dan juga bukan keturunan orang kaya yang mewarisi banyak harta. Karena tidak punya uang untuk operasi, ibunya meninggal saat Ia masih kecil. Hal serupa dialami kakaknya yang meregang nyawa karena sakit. Bisnis berjualan sayur yang dijalankannya pun bukan usaha besar dengan puluhan karyawan. Ia bahkan memiliki lecet di kaki dan bengkak di sendi karena bekerja sendirian. Tapi kedermawanan lah yang membuatnya mampu menjadi salah satu dari 48 dermawan paling berpengaruh versi Majalah Forbes.

Apa yang bisa kita dapatkan dari ketiga kisah dermawan di atas? Ternyata mereka orang yang biasa saja, tetapi menjadi luar biasa berkat sifat dermawannya. Bahwa ternyata memberi itu tidak harus kaya, karena jika menunggu kaya, seumur hidup kita tidak akan pernah menjadi pemberi.

Sejauh ini hanya 10 % komentar yang disetujui di blog ini maka berkomentarlah dengan bijak dan sesuai konten, komentar spam akan diblokir. harap mohon pengertiannya dan saya sangat berterimakasih atas komentar kalian :)
EmoticonEmoticon