Puisi-Puisi Vinsensius Vianey Siwe; Kepadamu Penunggu Fajar

Kepadamu Penunggu Fajar

Mungkin semua kisah tentangmu kan berakhir di ujung desah
yang mengundang basah
di mata dan bermuara di dada

Maafkan

jika ku menuliskan semua ini dalam ingatan tentangmu,
memang mengharapkan bayangmu menjadi nyata
adalah serakah yang tak mengundang berkah.

Sejak panjangnya jarum jam menuju pukul tiga,
kepergianmu telah digetarkan ke tulang igaku.

Ayah, kini dinginnya embun harus ku tembus,
tanpa hangatnya nafasmu berhembus di antara lembutnya bunga ilalang

Saat ini,ku tengah menikmati nyanyian kesunyian yang diiringi dawai gitar,
namun bukan lagi mereka bergetar dari jemarimu,
Tahukah engkau,di saat panjang serta pendeknya jarum waktu bertemu di bawah dua belas,

yang tersisa hanya rindu akan eratnya dekapmu kala ku ragu
dan sebuah malam yang ingin ku panjangkan
agar semua rima dari kisahmu tak berakhir saat malam berganti fajar


All I Want Is Nothing More

Apa yang dirindukan penjaga malam?
Ku katakan kepadamu mereka merindukan fajar,
Tuk segera memejamkan mata dan menenangkan raga
Bagaimana dengan aku, yang kehilangan separuh jiwaku?

Aku merindukan rumah, bukan tentang kemegahan dan kemewahannya
Aku merindukan sekumpulan tangan yang mencari kehangatan
Di ujung-ujung lidah api, bersama sebuah basa basi tentang bunga apa yang
Datang pada malam yang telah lalu.

Aku rindu saat aku menjadi penanti di batas senja, sering kali aku terbangkit dari
Baring-baring kantuk oleh samar-samar derap yang semakin dekat menjelas,
derap kaki di samping rumah itu, sungguh.

Aku rindu pada suara yang pulang saat rembulan meninggi
Meninggalkan puncak gunung yang menjulang
Saat aku menjadi alasannya tuk pergi dan pulang, tak dapat ku hitung
Entah berapa helai rambut kakinya yang patah,

Berapa banyak darah yang harus ia hisap,
Berapa banyak keringat yang harus ia sapu,
Agar aku tak merayap bagai rayap di jalan rapuh

Agar aku tak bertekuk lutut karena lekuk perutku kosong
Untuk Ayah sekaligus sahabat, jika saja ku bisa memelukmu erat sekejap,
Mungkin bagiku tak akan ada lagi rindu yang paling berat


Pergi Saja

Mungkin memang salah juga
mengharapkan komunikasi dua arah dari getarnya layar datar
Mungkin memang salah juga
bernarasi panjang lebar dan dijawab dengan setitik diam

Kalau memang mau pergi,
mulai saja dengan sejengkal langkah kebisuan,
kalau memang 360 masih bisa kembali ke 0 derajat,
untuk apa bertahan mengerutkan kencangnya urat jidat.

Iya, mengapa tidak dari awal saja kau bungkam,
supaya sungkan juga saya menyapa.
Kau yang berhenti melangkah
atau jalan yang ku harapkan masih terlalu panjang?

Pergi saja,
supaya ku semakin yakin bahwa hanya ibu yang cemas
kala ku tak beri kabar,

yang tak lama membisu kala salahku melukai hatinya

Pergi saja,
agar ayahmu tak perlu cemas
jika sekali-kali kau tak keluar kamar,
jika suatu saat kau menggigit kain
membungkam tangis menahan pedih

karena salah dan ulahku.
dan untuk diammu,
kau tak salah untuk itu,
itu harapan yang terlalu tinggi dari seonggok otak
dan hati yang tidak tau berkerja sama.


Vinsensius Vianey Siwe merupakan mahasiswa Jurusan Usaha Perjalanan Wisata prodi UPW Kampus Politeknik Negeri Kupang yang berasal dari Aimere, Bajawa

Chritis Ghaza
Belajar seumur hidup, menjadi murid selamanya

Related Posts

3 komentar

  1. KASIH YANG ABADI
    (Puisi paskah Karya Ona Tasoin)

    Saat gulita mulai menjelang,.
    Sang rembulanpun semakin benderang,.
    Menambah penat di tubuh letih perih,,
    InginMU berbaring di taman indah..
     
    Kota yang haus akan tanda,,
    Lelap tak teriring madah indah,,
    Seakan padam pelita para cendekiawan,,
    Sehingga buta hati para bangsawan.,
    Namun KAU terjaga berlutut berpeluh..
     
    Sangka mereka, DIA tak menahu,,
    Mulai merakit rancangan yang bau,,
    Hanya 30 perak sang PUTRA dibeli,,
    Bagai barang, ciuman laknatpun diberi.,
     
    Wahai., tanah dan debu,,
    Tidakkah kau dengar langkah menderu?
    Atau butakah hatimu hai karang dan batu.,
    Sehingga dirimu enggan membantu?
     
    Aahhh,,
    Bangkit dan lihat sengsaraNYA.,
    DipikulNYA kayu laknatmu itu.,
    Direjam kaki dan tanganNYA,,
    Dan di salibkan demikian pilu,,
     
    Namun,,
    Cinta kasih yang abadi,,
    Terurai dalam ketulusan hati,,
    Lalu.,
    Bibir keringNYA pun berucap kata.,
    "Ya BAPA, ampunilah mereka" ,,

    BalasHapus

Posting Komentar

Sejauh ini hanya 10 % komentar yang disetujui di blog ini maka berkomentarlah dengan bijak dan sesuai konten, komentar spam akan diblokir. harap mohon pengertiannya dan saya sangat berterimakasih atas komentar kalian :)

Loading...
Masukkan emailmu untuk mendapat pemberitahuan artikel terbaru