Puisi-Puisi Bas Woda; Nol Kilometer

Cahaya Mataku

Wahai kau cahaya mataku
Tak perduli di pelukan mana kau kelak
Aku adalah cinta yang tak bisa kau elak
Bila kau terluka karena dunia tularkan bisa
Atau seluruh hatimu kau berikan tanpa sisa

Kepada suatu ketiadaan
Kau menghamba kepada badan
Atau kau lupa kepada teladan
Tujuh bait yang ku bekalkan, kau sifati tanpa pegangan

Menjadi buih, aku takkan memaksa kau memilih
Menjadi buih, aku tau kita pasti akan berselisih
Aku berpegang niscaya, kau kukuh pada semesta raya
Tapi aku yang paling mengerti kapan kau dalam bahaya

Baca jugaPuisi-Puisi Bas Woda; Gerbang Arafah

Wahai kau cahaya mataku
Empat puluh musim dari sekarang
Entah di bumi mana kau bertualang
Pekalah pada isyarat, pahami yang tersirat

Longgarkan penutup diri
Tegarlah berdiri
Hayati tampil sebagai paderi
Taukah kau dua mata koin tak mungkin berakhir seri
Fitrah kita adalah memilih

Sehelai rambut dibelah tujuh, nasab bukanlah penentu
Sejatinya kita adalah musafir dari masa lalu
Maka sisakan sedikit rasa malu

Wahai kau cahaya mataku
Tinta menggores kertas kalimat menggores hati
Hidup berujung mati begitulah kodrati
Cari buhul pegangan sebelum fitnah berkumandang
Sungguh kau yang menentukan.
Sampai bertemu di tanah yang lapang

Baca jugaPuisi-Puisi Chritis Ghaza; Memperkosa Rindu

Nol Kilometer

Kita akan belajar tentang menerima
Menyerah tanpa syarat kepada problema
Kita berjuang, katanya hingga penghujung titik
Nyatanya kita kalah cerdik

Lalu keinginan menguap seperti embun jam setengah tujuh pagi
Kita biarkan rasa, berfikir siklus selalu berulang
Titik lompat yang terlewat nanti di depan dapat
Kau tau?, Bunga yang sama tak mekar dua kali

Tiap lekuk adalah kisah
Tiap kelopak memiliki ciri warna dan aroma

Tak harus sama mewangi
Karena tatapan tak peduli tak akan pernah memahami
Cuma kepada yang sedia tundukkan dahi

Sang mawar kan beri semerbak
Dan bahagia yang tak terlalu mahal.

Surabaya,13 februari 2019

Baca jugaPuisi-Puisi Vinsensius Vianey Siwe; Kepadamu Penunggu Fajar

Thumbler

Kenapa kau merasa kecil
Kenapa mengalah berarti bergerak ke pinggir
Tidak semuanya mesti diteriaki
Tidak semuanya bermaksud memaki

Kau memandang tertindas
Dari matamu bulan terlalu panas
Padahal banyak yang menari
Ditemani cahaya matahari

Yang berjalan ke kiri kau pikir salah
Lalu untuk apa arah?
Ada benar karena salah berkorban
Tak marah dikambing hitamkan

Baca jugaPuisi-Puisi Nana Tupuama; Pasrah

Kenapa kau tetap membenci
Padahal tidak ada yang menghakimi
Kau ketakutan pada cermin
Kau khawatir kepada suara hati

Kau diperangi dirimu sendiri
Kau dimangsa kecemasan, ketakutan
Kau cuma dikoreksi bukan dikhianati
Kau cuma di ingatkan bukan diperingatkan.

Surabaya, 3 april 2019


Bas Woda merupakan seorang penyair yang berasal dari Kalabahi-Alor yang saat ini berdomisili di Surabaya



0 komentar

Posting Komentar

Sejauh ini hanya 10 % komentar yang disetujui di blog ini maka berkomentarlah dengan bijak dan sesuai konten, komentar spam akan diblokir. harap mohon pengertiannya dan saya sangat berterimakasih atas komentar kalian :)