Cinta Sampai Mati!


Sore itu dengan sedikit perasaan berdebar di dada, Saul menanti Dewi, kekasih hatinya yang sudah ia pacari tiga tahun ini.
 
sumber : 123rf.com
 

Nampak, Saul seakan sedang berlatih mengucapkan sesuatu dengan terbata dan sedikit gugup, ramainya Taman Nostalgia Kota Kupang di senja itu, membuat dirinya makin tak fokus pada apa yang ia ucapkan.

"Kamu sedang apa?"

"Eh, sayang, sejak kapan berdiri di situ?" Ucap Saul membalas sahutan Dewi.

"Aku baru saja sampai, maaf sedikit terlambat, soalnya tadi ada macet di sekitar bilangan Oesapa."

"Oh.. tak apa-apa sayang."

"Jadi, apa yang ingin kamu katakan sehingga memintaku datang ke tempat ini?"

"Ah..., duh...Aku Gugup sayang."

"Hehehe, ucapkan saja sayang, masa sama aku gugup?"

"Sebenarnya, aku mau..."

"Mau apa?"

Mata Dewi tampak berbinar, napasnya seolah terhenti menanti jawaban dari Saul.

"Aku mau kita putus.."

"Apa? mengapa? aku salah apa?

Debaran hebat di dadanya kini menjadi deburan air mata yang tiada henti menggepur matanya sehingga bulir-bulir tirta dari mata Dewi perlahan mengalir singgah di pipinya.

"Kamu tak salah apa-apa, aku yang salah!"

"Tapi mengapa? kenapa harus mendadak seperti ini? kita tak pernah bertengkar dalam tiga bulan ini, tak ada masalah berarti juga, dan hubungan kita termasuk sama seluruh keluarga kita baik-baik saja."
"Aku tak pantas buat kamu, sebenarnya aku bukan laki-laki yang baik buat kamu! Aku mau kamu cari laki-laki lain yang bisa membahagiakanmu sampai putih rambutmu.

"Tiga tahun kita pacaran dan tanpa alasan jelas kamu mengakhiri hubungan kita? pecundang!

"Aku minta maaf, tapi ini cara aku biar kamu bahagia, aku tak mau kamu menderita!"

"Terserah! Kamu teramat sangat jahat!"

"Suatu saat kamu akan tahu mengapa aku mengambil keputusan yang juga meruntuhkan hatiku ini!"

Saul kemudian pergi dan berlalu meninggalkan Dewi yang sedang terisak seorang diri di situ.

Dewi tak peduli akan banyaknya pengunjung taman disekitarnya, ia tetap terus menangis tersedu-sedu.

Setahun tujuh bulan pun berlalu, Dewi masih memendam perihnya sakit yang ia terima beserta rasa cinta yang begitu besar terhadap Saul, rasa benci, rindu, sayang, kuatir semuanya diaduk dalam satu emosi, beberapa kali ia mencoba menghubungi Saul dan keluarganya, namun kontak mereka sudah tidak aktif lagi, ia pun juga berusaha datang ke rumah saul namun usahanya tetap nihil, saul dan keluarganya dikabarkan telah pindah entah kemana.

Ia mencoba membuka hatinya untuk pria lain yang datang mendekat, namun ia takut pria-pria tersebut hanya menjadi tempat pelampiasannya saja, ia takut tak ada yang dapat menyayangi dirinya seperti Saul menyayangi dirinya.

Suatu hari, Dewi berpapasan dengan Dhino, salah seorang kerabat dekat Saul saat bekerja dulu.

"Dhino, apa kabar?"
"Hai Dewi, aku baik, kamu bagaimana?"

"Hm, aku sudah rapuh sejak kepergian Saul."

"Kamu ingin bertemu Saul?"

"Hah.. memangnya kamu tahu keberadaan Saul?"

"Hm, Aku tahu. Sebenarnya kami semua menyembunyikan keberadaan Saul darimu atas permintaannya sendiri, aku minta maaf!"

Dewi langsung meneteskan air mata haru bercampur marah saat itu juga.

"Kalian tega, kalian tak tahu betapa tersiksanya aku selama ini!"

"Aku minta maaf, kami semua melakukannya atas permintaan langsung dari Saul."

"Cepat, antar aku menemui Dia."

"Kamu yakin?"

"Apa air mataku tak cukup bagimu? Kalau perlu aku berlutut dan memohon-mohon dan mencium kakimu!"

"Sudah-sudah, ayo kita berangkat!"

Mereka berdua pun lalu berangkat ke tempat dimana Saul berada.

"Ini kan rumah sakit! apa yang Saul lakukan di sini? dia sakit?" Dewi makin kalut sambil meneteskan air mata, sementara Dhino hanya terdiam sendu.

Setelah memarkirkan kendaraan, mereka berdua lantas masuk ke dalam rumah sakit tersebut, lalu menyusuri lorong-lorong rumah sakit dan tiba lah mereka di suatu ruangan yang mana, terdapat Saul di dalamnya.

Di situ, Dewi bertemu dengan beberapa keluarga Saul, mereka yang kaget lalu memeluk Dewi sambil menangis sejadi-jadinya, kemudian mengijinkan Dewi masuk ke dalam.

Di situ, Dewi mendapati Saul yang tersenyum lemah kepadanya.

Air mata Dewi makin mengucur deras melihat orang yang sangat dicintainya itu terbaring lemah di kasur rumah sakit.

"Sayang?" Ucap Saul pelan

"Ka.. kamu kenapa seperti ini?

"Kamu ingat pertemuan kita di Taman Nostalgia dulu? sebenarnya tepat di hari itu aku didiagnosa mengidap penyakit ini.."

"Kamu sakit apa?" ucap Dewi sambil mendekat, ia meraih tangan Saul dan mencium tangan tersebut seolah tak ingin melepaskannya.

"Kamu tak perlu tahu, aku senang melihat kamu sekarang."

"Tapi aku harus tahu, aku bagian dari hidupmu!"

"Sudahlah, waktuku sudah dekat, terimakasih karena masih tetap mencintaiku, aku pun begitu, dan akan selalu begitu."

Setelah mengucapkan kata tersebut, Saul langsung menghembuskan napas terakhirnya, seisi ruangan tersebut, dipenuhi oleh isak tangis keluarga, tak terkecuali Dewi yang sangat terpukul.

Dhino datang lalu memeluk Dewi dengan sangat erat, sebagai bentuk penguatan.

"Dhino, kamu jawab sekarang! Saul sakit apa?

"Apa kamu yakin ingin mendengarnya?"

"Jawab sekarang!"

"Baiklah, haaah.. Sebenarnya waktu masih menjalin hubungan denganmu, Saul sering berkunjung ke berbagai tempat prostitusi di seluruh Kota Kupang, tabiat jeleknya itu mengakibatkan ia didiagnosa dokter mengidap HIV-AIDS.

Mendengar hal tersebut, Dewi lantas menyekah air matanya dengan segera.

"Apa? Anjing! Bangsat! Binatang! Jadi selama ini dia bermain di belakangku? dan membiarkan aku tersiksa batin dan diri selama setahun lebih? Cuiiih! syukurlah dia sudah mati, aku tak sudi dan tak akan pernah mengakui cintaku lagi padanya!"

Dewi lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut seolah tak peduli!

"Dewi...Dewi, tunggu! kamu yakin tidak tertular sakit tersebut dari Saul?"
(TAMAT)

hahahahahaha hahahahahaha, cieee cieee kasian yang sudah baper akhirnya emosi :D :v

NB : Cerita ini hanya merupakan karangan fiksi saya, kesamaan nama dan tempat hanya kebetulan semata, mohon dimaklumi soalnya saya pasien yang kabur dari rumah sakit jiwa.
--------------------------------------

Chritis Ghaza
Belajar seumur hidup, menjadi murid selamanya

Related Posts

Posting Komentar

Loading...
Masukkan emailmu untuk mendapat pemberitahuan artikel terbaru