Maafkan Aku Ibu, Aku Menyesal

Namaku Christin, seorang wanita berusia 20 tahun asal kota Kupang.
Kini aku hanya menghabiskan sisa hidupku dengan rasa penyesalan yang teramat sangat besar atas segalah kesalahan yang aku lakukan dulu

 

Cerita ini berawal satu tahun lebih yang lalu, saat itu aku masih bersekolah di salah satu sekolah negeri di kota ini.

"Christin, ayo bangun! Ini sudah hampir jam tujuh," Ucap ibu yang berdiri di depan pintu kamarku.

"Hmmm, aku hari ini tak masuk saja ya bu?"

"Mengapa tak masuk? Apa ada masalah di sekolah?"

"Bu, aku tak mau ke sekolah menggunakan seragam kumuh dan lusuh ini."

Ibu menarik napas dalam-dalam lalu berkata.

"Sekolah tak memperhatikan seragammu, mereka hanya menuntut kamu untuk ke sana dan belajar dengan baik."

"Tak mau!"

sumber gambar : nu.or.id

"Hmm, kalau begitu bantu ibu jualan ya? Nanti kalau ada berkat lebih, kita belikan seragam baru buatmu, bagaimana?"

"Apa? Kalau teman-temanku lihat bagaimana bu? Mau taruh di mana muka ku ini?"

Ibuku yang tak mau beradu argumen denganku langsung pergi begitu saja meninggalkan aku dan pergi berjualan.

Semenjak ditinggal pergi oleh ayahku saat aku menginjak kelas 1 SMP, ibuku yang menjadi tulang punggung aku dan Adrian, adikku yang masih berumur 9 tahun.

Setiap hari ibu berjualan kacang gula buatannya sendiri keliling gang, penghasilannya kadang tak menentu, Sehingga untuk biaya hidup sehari-hari pun kami tak mampu dan hanya mengandalkan bantuan dari kelurahan.

Malam pun datang, tak terasa aku sudah kelaparan, sedari tadi aku hanya berdiam diri di dalam kamar sambil tiduran dan berkhayal.

"Ibu pulang..." Ucap ibu saat tiba.

"Bu aku lapar." Ujar Adrian sambil memeluk ibu.

"Tenang nak, ini ibu sudah bawakan roti buat kalian."

"Roti lagi? Bu, aku mau makan nasi bukan roti, dan roti ini juga kecil sekali bu. Mana bisa kenyang kami makannya." Ucapku yang memarahi ibuku.

"Sudah, kalian berdua makan saja, bagi sama rata sama adikmu, ibu sudah makan tadi, doakan biar kita dapat membeli beras ya..."

"Ibu kan bisa pinjam ke tetangga."

"Selagi ibu masih kuat, ibu akan tetap giat mencari makan buat kita, anggota tubuh ibu masih lengkap, malu sama yang cacat tubuhnya tapi masih sanggup bekerja keras."

"Ah, aku tak peduli! Intinya aku mau makan nasi."

Aku lalu melempar roti tadi ke arah ibu, dan berlalu dengan masuk ke kamar, Adrian yang melihat ibu sedang menangis pun lantas mendekat ke arah ibu dan memeluknya dengan erat.

"Bu, maafkan kakak ya,"

"Nak, seorang ibu akan selalu memaafkan, seberapa besar pun kesalahan anaknya."

Keesokan harinya aku berniat pergi ke sekolah karena sudah bosan dengan keadaan di rumah.

"Bu, kasih uang jajan." Ujarku kepada ibu

"Ini nak, ibu cuman punya segini," ucap ibu yang menyodorkan selembar uang lima ribu rupiah.

"Cuman segini bu? Teman-temanku uang jajannya sehari itu lima puluh ribu rupiah bu."

"Kita berbeda dengan mereka nak, mereka anak anak orang kaya, sedangkan kita?"

"Ah... sudahlah..."

Aku lantas berjalan kaki ke sekolah yang kebetulan hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumahku,

Sampai di sekolah aku berpapasan dengan ka Itis, kakak kelasku yang selalu meluluhkan hati para gadis di sekolah, termasuk aku. Dari segi wajah, ia bukan sosok yang rupawan, namun ia dikenal sebagai seseorang yang cerdas, cara berbicara dan tingkah lakunya menunjukkan kalau ia begitu berkharisma, ditambah lagi ketika ia tersenyum, kota kupang yang tadinya panas seolah menjadi dingin.

"Hai, selamat pagi."

Sapaan dari ka Itis membuyarkan sedikit lamunanku, aku sedikit malu dan canggung dibuatnya.

"Ha...haii kak."

Ka Itis hanya melempar senyumnya padaku, lalu dengan tersipu aku berjalan menuju kelas.

Sesampainya di depan kelas ada dua orang laki-laki dan seorang wanita yang menghadang jalanku, mereka adalah Gusty, Deddy dan Litha teman kelasku.

Nampak, dengan sinis mereka menatapku dalam-dalam.

"Permisi aku mau lewat,"

Aku tetap menerobos barikade hidup itu, dan meninggalkan rasa marah pada wajah mereka.

Litha lantas mengejarku, disusul Gusty dan Deddy. Dan dengan sangat kasar Litha menarik bajuku sehingga aku terjatuh.

"Kurang ajar sekali kalian sama teman sendiri." Hardik Novhy pada mereka sambil membantu aku berdiri.

Novhy merupakan teman sekelasku, ia sangat baik dan ramah pada siapapun.

"Memangnya kenapa kalau kami kurang ajar? Kami tak mau kelas ini diisi oleh orang miskin seperti dia."

"Cukup! Kalian sudah melebihi batas!"

"Sudah...sudah, aku tak apa-apa Nov." Ujarku melerai pertengkaran itu meski sebenarnya aku sangat marah dan ingin sekali menghajar mereka.

"Kamu yakin Itin?"

"Iya Nov, aku aman kok."

"Awas kalau kalian sampai melakukannya lagi." Ujar Novhy mengingatkan mereka.

"Mengapa kemarin kamu tidak masuk sekolah?"

"Sebenarnya aku malu,"

"Malu kenapa?"

"Seragamku jelek dan lusuh,ibuku tak mampu membelinya, sedangkan dia hanya seorang penjual kacang gula keliling."

"Hmmm... Aku punya sesuatu buat kamu." Ucap Novhy sambil merogoh dompetnya lalu menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu rupiah.

"Aah.. jangan Nov, aku gak bisa menerimanya."

"Kamu harus menerimanya, kalau kau tak menerimanya maka aku akan marah."

"Hm.. tapi, aku takut tak bisa menggantinya."

"Aku tak memintamu untuk menggantinya, uang itu ku beri cuma-cuma padamu, ambil lah!"

"Ta..tapi."

"Jangan buat aku marah!"

"Baik, aku ambil,"

"Nah, begini kan enak hehehe.."

"Hmmm, terimakasih ya Novhy."

"Sama-sama, besok kamu sudah harus pakai seragam baru."

"Sekali lagi makasi ya, kamu sungguh baik kepadaku."

Tiba pada waktu jam pulang sekolah, aku bergegas ke pusat pertokoan di daerah LLBK, di sana aku berkeliling membeli beberapa seragam, sepatu dan beberapa kebutuhan gadis seusiaku, aku juga menyempatkan diri untuk membeli beberapa makanan enak untuk Ibu dan Adrian sebagai rasa permintaan maafku atas perbuatanku tadi.

Tak terasa langit sudah gelap, rupanya sudah terlalu lama aku diluar.

Sudah waktunya aku kembali ke rumah.

Sekitar sepuluh menit di dalam bemo, akhirnya aku tiba di gang dekat rumahku, ku telusuri beberapa ruas gang sempit dan akhirnya berhenti tepat di depan rumah.

Dengan binar dan raut wajah bahagia aku segera membuka pintu.

"Dari mana saja kamu? Mengapa baru pulang? Apa yang kau pegang di tanganmu itu?"

"Ini seragam, tadi aku masih ke pertokoan untuk membelinya, aku juga membeli makanan, ayo kita makan."

"Darimana kamu dapatkan uang untuk membelinya?"

Aku hanya diam membisu, dan kaget melihat sikap ibu.

"Jawab! Darimana kamu dapatkan uang itu? Hah?"

"Temanku yang memberikannya padaku, tadi aku curhat ke dia kalau kemarin aku tidak masuk sekolah karena seragamku lusuh, jadi dia memberikan uang padaku untuk membelinya."

"Teman siapa? Mengapa kamu langsung menerimanya," bagaimana kalau nanti mereka memerasmu, atau memanfaatkan kepolosanmu?"

"Bu, aku sudah muak hidup melarat seperti ini, seragam saja ibu tak mampu membelikannya untukku, syukur-syukur saja kalau ada yang berbaik hati padaku! Aku juga sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri!"

"Tega sekali kau berkata demikian pada ibumu nak? Aku sebagai ibumu hanya peduli padamu, aku berhak kuatir, apalagi jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, ibu tak menginginkan semua itu terjadi padamu nak!"

"Ahhh... sudahlah!"

Praaaak.....

Aku membanting pintu kamarku dengan keras, dan kembali mengurung diri.

Beberapa saat kemudian, ibu menghampiri pintu kamarku.

Tok..tok...tok..

"Itin, maafkan ibu nak, ibu sudah terlalu keras padamu, yuk kita makan."

Aku tak menggubris perkataan ibu dan tetap mendiamkannya.

Keesokan harinya aku berpapasan dengan ibu, tapi aku pun masih mendiamkannya meski ibu menyapaku dengan hangat, ku tetap membuang muka dan terus berlalu menggunakan seragam baruku dengan tak peduli.

Sesampainya di depan sekolah aku berpapasan dengan Novhy.

"Wah keren, kamu cantik, ayo masuk."

"Makasi ya,"

Saat jam istirahat berlangsung Novhy mengajakku ke kantin.

"Tapi aku tak punya uang Nov."

"Tenang aku yang traktir."

"Aku malu, kamu sudah terlalu baik padaku."

"Hahaha, tak usah dipikirkan."

Bakso pesanan kami datang, kami pun langsung menyantapnya bersama dengan tersenyum. Aku sangat bahagia mendapat seorang sahabat yang sangat baik padaku.

Saat sedang asik menyantap bakso, mataku tertuju pada handphone milik Novhy yang terletak di atas meja.

"Handphonemu bagus sekali."

"Oh ini namanya Iphone X."

"Kalau boleh tau berapa harganya?"

"21 juta,"

"What? 21 juta, hmm aku tak begitu heran, kamu kan anak orang kaya, jadi 21 juta bagimu itu kecil."

"Hahaha, orang kaya? Aku dulunya sama sepertimu! Setelah kedua orangtuaku bercerai, masing-masing dari mereka memilih untuk menikah lagi, aku memilih kabur, terluntang lantang di jalanan, dan akhirnya aku dapat pekerjaanku sehingga bisa memenuhi seluruh kebutuhan hidupku."

"Pekerjaan apa itu?"

"Tak usah kau tahu pekerjaanku."

"Tapi aku mau tahu, aku juga ingin bekerja sepertimu, aku sudah capek hidup melarat."

"Kamu yakin?"

"1000% aku yakin."

"Baiklah, sepulang sekolah kamu ikut aku."

"Ke mana?"

"Kamu mau bekerja kan?

"iya."

"Makanya ikut aku sehabis sekolah!"

"Ok. Thanks ya."

Sepulang sekolah dengan menumpang taksi, Novhy membawa aku ke sebuah hotel besar.

Kami berdua menyusuri lorong-lorong hotel dan berhenti di sebuah kamar, aku ingat kamar itu bernomor 331.

Dari balik kamar, nampak seorang pria setengah baya yang membuka pintu, dia tersenyum lebar pada kami berdua.

"Novhy, kamu datang tepat waktu..."

"Hehe, ini Kupang om bukan Jakarta yang selalu macet hehe..."

Dari pembicaraan mereka, aku menyimpulkan kalau mereka sudah saling mengenal sejak lama.

"Mari masuk, siapa nama kamu?" Ucap pria tadi padaku

"Christin om."

"Perkenalkan aku Frit, hmm... jangan panggil aku om, panggil saja aku Frit."

Aku hanya setengah tersenyum karena sedikit takut.

Lalu om Frit memberikan kode pada Novhy dengan tangannya, kemudian Novhy mendekatiku dan berkata.

"Apa saja yang ia lakukan padamu, diam saja dan jangan melawan."

Setelah berkata demikian, Novhy lalu keluar meninggalkan aku dan om Frit di dalam kamar. Novhy tak memperdulikan panggilanku lalu menutup pintu dari luar dan menunggu kami di lobi.

Om frit lantas mendekatiku, kemudian perlahan mencumbui tubuhku, aku berusaha melawan, namum tenaganya lebih besar. Aku hanya menangis pasrah saat disetubuhi olehnya.
Setelah selesai melakukannya, dia menelpon Novhy untuk datang ke kamar. Saat Novhy tiba, ia memberikan banyak uang, yang aku ingat bernilai 9 juta rupiah.

"Ini aku tambahkan buatmu karena dia masih perawan."

"Terimakasih om," sahut Novhy sambil tersenyum pada om Frit.

Setelah om Frit pergi, Novhy mendekatiku yang sedang menangis, aku marah, aku merasa dibohongi, aku berusaha menghindarinya. Namun ia memelukku dan meminta maaf.

"Ini lah pekerjaanku Itin." Ucap Novhy seraya menangis.

Lalu ia memberikan aku semua uang itu, dan menyuruhku berpakaian.

Kemudian, sambil dirangkul Novhy kami berjalan menyusuri lorong hotel untuk segera pulang.

Dia memesan taksi, lalu mengantar aku hingga ke depan gang masuk rumahku.

"Aku minta maaf, aku harap kita tetap menjadi sahabat." Ucap Novhy yang kemudian berlalu meninggalkan aku dari dalam taksi.

Semenjak kejadian itu, aku makin terbiasa melakukannya. Aku makin punya banyak uang, gaya hidupku pun juga berubah.

"Christin, jawab ibu. Sudah beberapa minggu ini kamu dapat banyak uang, darimana uang itu?"

"Bu, aku kan sudah bilang sejak awal kalau uang itu dari hasil aku bekerja."

"Tapi sampai sekarang ibu tidak tahu apa pekerjaanmu nak, ibu takut kamu melakukan hal yang tak benar di luar sana."

"Jadi ibu pikir aku melakukan hal yang tak benar?"

"Ini hanya perasaan ibu saja nak, mengertilah, aku adalah ibu yang melahirkanmu, tentu saja ibu kuatir nak."

"Bu! Aku tidak melakukan apa pun yang tak benar, jika ibu terus berpikir yang tidak-tidak, maka aku akan keluar dari rumah ini!"

"Jangan.... ibu tak mau kamu kenapa-kenapa diluar sana."

"Sudah..sudah.. aku mau ke sekolah, ini ada sedikit uang buat ibu, terima lah."

Aku lalu berjalan meninggalkan ibu dan tak memperdulikan apa yang ibu pikirkan.

Sesampainya di dalam kelas, Litha, Gusty dan Deddy mendekati aku, lalu meminta maaf karena selama ini telah menghina dan merendahkan aku.

Mereka mengajakku ke sebuah club malam.

menanggapi niat baik mereka, aku pun menyanggupinya.

"Ok sampai jumpa malam ini ya Itin."

"Iya makasi ya Litha."

Hari itu aku menunggu Novhy, tapi kayaknya dia tidak masuk sekolah, aku berusaha menghubungi nomornya namun tidak aktif-aktif.

Malam pun tiba, aku pergi ke club yang sudah ditentukan, di sana kami bertemu dan mabuk-mabukan hingga dini hari.

Aku yang sudah mabuk berat berusaha membuka mata, aku kaget ketika sudah berada di atas ranjang di dalam sebuah ruangan.

Kemudian muncul lah seorang laki-laki yang memakai topeng di wajahnya. Ia mendekati aku lalu berusaha menyetubuhiku secara paksa. Aku menangis dan berteriak sekencang mungkin tapi tak ada yang mendengarnya, apalagi ditambah kondisiku yang sedang mabuk berat, aku disetubuhi hingga tak sadarkan diri.

Pagi harinya aku terbangun dan sudah berada di depan pintu rumahku. Ibu yang membuka pintu pun kaget melihat kondisiku, ia lalu memanggil Adrian untuk membantu menggotong tubuhku ke dalam.

Aku pun sakit keras, hingga 3 hari tak pergi ke sekolah, ibu merawat diriku dengan penuh kasih sayang dan tanpa mengeluh.

Setelah beberapa hari mendapat perawatan dari ibu, aku pun sembuh total.

Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah, apalagi aku sudah rindu pada Novhy sahabatku.

Namun suasana di sekolah kali ini berbeda, orang-orang menatapku sinis, tidak hanya beberapa, melainkan hampir semua orang di sekolah menatapku sinis dan kadang melempar tawa padaku.

"Dasar lonte!" ucap salah seorang siswi padaku.

"Maksud kamu apa?"

"Hahaha... video kamu sudah viral di seluruh kota Kupang."

"Video apa?"

"Buat video sendiri tapi masih tanya?"

Aku membuka handphoneku dan mendapati sebuah video di dalam pesan grup whatsapp kelas, video yang mana aku disetubuhi oleh pria dengan topeng saat aku mabuk berat.

Aku langsung menangis kemudian pergi meninggalkan sekolah itu, aku berusaha menelpon Novhy tapi nomornya tidak aktif.

"Bagaimana kalau video itu makin luas tersebar, apalagi sampai diketahui ibu?" Batinku panik.

Aku yang depresi langsung pulang ke rumah, sepanjang jalan di gang aku ditertawai oleh orang-orang yang mengenalku. Pikirku mereka sudah mengetahui video tersebut.

Setiba di depan rumah, langkahku getir untuk mendekat ke pintu, namun ku tetap membuka pintu tersebut.

Dan benar sesuai pikirku, ibu sudah duduk di kursi menungguiku.

"Ibu tadi hendak pergi jualan, namun ada beberapa ibu-ibu yang memanggilku, mereka memberitahu jika kamu ada dalam sebuah video mesum, aku tak percaya pada mereka! Namun, mereka memaksa agar aku menontonnya. Tentu saja aku tak mau, aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu. Apa benar kamu yang berada dalam video itu? bilang sama ibu kalau gadis itu bukan dirimu! bilang...." Nampak air mata keluar dan membasahi pipi ibuku saat menanyakan perihal tersebut.

Aku tak sanggup menjawab pertanyaan ibu dan mulai menangis.

"Batinku memang benar, aku tahu hal buruk akan terjadi, sebagai ibu aku selalu berusaha dengan sebaik mungkin agar selalu menjagamu, namun kamu telah merusak asa dan kepercayaanku."

"Maafkan aku ibu...aku menyesal...."

Ibuku lalu bangun dari duduknya, tanpa menyekah air mata, ia berjalan meninggalkan aku. Aku tak tahu kemana ibu pergi, bahkan hingga malam tiba ibu tak kunjung pulang.

Aku dan Adrian berusaha mencari ibu ke mana-mana namun tidak menemukan keberadaannya.

Aku dan Adrian pun pulang, saat di dalam kamar aku seperti mendengar sesuatu, namun tetap tak ku hiraukan.

Pagi harinya aku terbangun karena mendengar suara teriakan Adrian.

"Argh.... ibuuuuu...ibu...."

Aku lalu berlari keluar dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Setibanya di luar, aku kaget bukan main ketika mendapati tubuh ibu sudah tergantung dengan tali tambang terikat kencang pada lehernya, ibuku bunuh diri...

Rupanya suara aneh semalam adalah suara ibu yang bunuh diri, seandainya semalam aku keluar untuk mengeceknya mungkin aku masih bisa bertemu ibu sekarang.

"Ini semua karenamu, anak sial kau..." Ucap Adrian menangis dan mengutuki diriku.

"Aku minta maaf..."

"Pergi kau anak sial! Jangan dekati ibuku! Kau bukan anaknya!"

Tetangga pun mulai berdatangan dan kaget melihat kondisi ibu.

Ibuku meninggal dengan cara yang tak sepantasnya karena ulahku. Memang benar kata Adrian, aku adalah anak sial,

Beberapa hari sudah setelah ibu dikuburkan, aku masuk ke kamar ibu untuk pertama kalinya, aku berbaring di atas kasurnya karena rindu pada ibu.

Aku mencoba mengubah posisi bantal, tapi ku dapati sebuah buku di bawahnya, rupanya buku tersebut merupakan diary milik ibu.

Perlahan aku membukanya, lalu melihat beberapa catatan lama, dan mataku tertuju pada beberapa lembar catatan yang akhirnya sungguh menyayat hatiku.

"Kupang, 1 Juli 2019"

Aku bersyukur, pendapatan hari ini dapat membeli 2 potong roti untuk Christin dan Adrian, mereka pasti sudah sangat lapar."

Batinku teriris membaca tulisan tersebut, ternyata waktu itu ibu berbohong kalau ia sudah makan, dan berusaha dengan keras agar kami dapat makan.

"Kupang, 2 Juli 2019"

Ya Tuhanku, aku mohon bantu hambamu, agar hamba dapat membeli seragam baru untuk Christin, kasian dia ya Tuhanku, seragamnya sudah sangat lusuh dan kekecilan."

"Kupang, 5 Juli 2019

Tuhan terimakasih atas bantuanmu lewat tangan temannya Christin, akhirnya dia dapat membeli seragam baru, aku tadi sempat bertengkar dengan dia Tuhan, aku hanya takut teman-temannya memanfaatkan kepolosan dia, hamba hanya tak bisa melihat buah hati yang sangat hamba cintai menderita dan diperlakukan tak dengan tidak pantas."

Membaca catatan ini air mataku menetes membasahi diary milik ibu, aku makin hancur dan menyesal. Namun ku tetap melanjutkan membaca.

"Kupang, 23 Juli 2019

Hari ini Christin membawa uang yang sangat banyak, dia bilang itu adalah hasil bekerja, namun perasaanku berkata lain. Semoga apa yang dikatakannya adalah benar, Ya Tuhan tolong berkati dia jika pekerjaanya baik, dan buka kan matanya jika pekerjaanya salah."

"Kupang 8 Agustus 2019

Christin makin beda, tak terkendali, gaya hidupnya sudah sangat diluar batas, aku selalu berusaha mengingatkannya, aku marah tapi dia malah balik memarahiku, Tuhan tolong jamah hatinya."

"Kupang, 19 Agustus 2019

Christin pergi malam hari, aku berusaha mencarinya ke mana-mana tapi tak ku temukan, sekitar 4 jam aku keliling gang dan beberapa ruas kota untuk mencarinya, semoga ia tidak kenapa-kenapa diluar sana."

"Kupang, 20 Agustus 2019

Aku menulis catatan ini dengan menangis, pagi tadi ku temukan Christin dalam keadaan mabuk di depan pintu rumah, hatiku hancur melihat kondisi Christin, gadis kecilku yang dulu sudah sangat berlaku jauh."

"Kupang, 22 Agustus 2019

Christin sakit keras, aku memutuskan untuk tidak pergi berjualan, cepat sembuh buah hatiku sayang."

Air mataku makin deras, perlahan aku membalikkan lembar catatan ibu dan lanjut membacanya.

"Kupang, 25 Agustus 2019

Pagi ini aku benar-benar hancur, para tetangga dan banyak orang menggosipkan nama Christin, mereka berkata anakku beradegan mesum dalan sebuah rekaman video, aku tak mau melihatnya, aku takut orang-orang itu berkata benar akan anakku. Aku menunggu Christin di rumah agar mendengar langsung dari mulutnya, apakah benar dia dalam video tersebut atau bukan. Tapi sebuah permintaan maaf darinya sudah meyakinkan aku kalau ternyata memang gadis di dalam video tersebut adalah dia. Aku lalu berjalan keluar dari rumah dengan tak tentu arah, aku sungguh depresi melihat kenyataan ini, di seberang jalan aku melihat seorang gadis yang sering bersama Christin. Kalau tidak salah, namanya Novhy, aku berusaha mengorek informasi dari dirinya, awalnya dia tak mau menceritakannya padaku, namun aku tetap memaksanya menceritakan semuanya. Air mata dan rasa depresiku membawahku dalam kehancuran, Novhy berkata kalau Christin selama ini sudah menjual dirinya pada pria hidung belang agar mendapat banyak uang. Novhy juga mengaku bahwa ia yang menawarkan pekerjaan tersebut pada Christin, dan yang lebih membuatku pahit, Novhy pula yang menjual Christin pada kakak kelasnya di sekolah bernama Itis. Dengan dibantu oleh teman kelasnya bernama Gusty, Deddy, dan Litha, maka Itis dengan niat jahatnya merekam segalah aksi bejadnya terhadap anakku. Aku langsung membawa Novhy ke kantor polisi untuk memberikan keterangan atas laporan yang aku buat. Aku sudah tak sanggup hidup untuk melihat ini semua, mungkin ini akan menjadi catatan terakhirku, Tuhan aku minta maaf, tolong sampaikan kepada Christin dan Adrian kalau aku sangat menyayangi mereka."

Membaca itu semua, aku menangis sekencang-kencangnya.

"Ibuuuuu.... aku menyesal bu.....aku minta maaf.....

Hingga saat ini rasa penyesalan dan malu masih menyelimutiku, Lewat catatan ibu pula aku mengetahui kalau mereka yang manis di depanku belum tentu manis di belakangku. Aku membawa Adrian dan bayi mungil yang baru ku lahirkan pindah ke kota lain, Yah, beberapa minggu setelah kematian ibu, aku jatuh sakit, saat memeriksa keadaanku, dokter berkata kalau aku tengah mengandung sebuah janin.

Aku meninggalkan seluruh masalalu ku yang kelam, dan membuka lembar baru dalam kehidupan. Kadang beberapa bulan sekali aku pulang ke Kupang untuk sekedar berziarah ke makam ibu.

dan mulai saat itu aku memutuskan agar menjadi seorang wanita seperti ibuku. terimakasih ibuku, aku minta maaf.

(TAMAT)
±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±
Pesan moral :

1. Orangtua mengesampingkan keperluan dan nikmat pribadinya demi memenuhi kepentinganmu, hargai dan hormati mereka.

2. Belajar bersyukur dalam segalah kondisi, susah maupun senang, karena bersyukur adalah cara untuk tetap menyokong kita agar tetap di atas.

3. Jaga diri kalian baik-baik, coba beri label harga pada diri kalian dan lihat sudahkah dirimu berharga?

4. BANTU ORANG TUA KERJA D RUMAH, JANGAN MALAS DI RUMAH TAPI RAJIN DI RUMAH PACAR.

5. Siram setelah kencing.

Cerita pendek ini dikarang oleh Christian Y. S Giri/Chritis Ghaza (baca artikel yang lain di blog CHRITISGHAZA.NET) ǁ Cerita ini hanya cerita fiksi dan imajinasi saya, jika ada kesamaan cerita dan nama itu hanya kebetulan semata ǁ cerita ini saya dedikasikan kepada seluruh remaja di kota kupang, terutama remaja perempuan, tolong jangan salah bergaul, jaga diri kalian, apalagi di era sekarang ini, karena saya tak mau kalian rusak seperti saya, simpan foto orangtua kalian di dompet atau set sebagai walpaper HP, dan tataplah wajah mereka tiap kali muncul keinginan untuk berbuat sesuatu yang tak baik, bayangkan apa yang terjadi ketika mengetahui dirimu berbuat hal yang melukai hati mereka.

Baiklah, tolong SHARE/BAGIKAN cerpen saya ini biar dibaca dan bermanfaat bagi banyak orang. terimakasih
hormat
±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±±

0 komentar

Posting Komentar

Sejauh ini hanya 10 % komentar yang disetujui di blog ini maka berkomentarlah dengan bijak dan sesuai konten, komentar spam akan diblokir. harap mohon pengertiannya dan saya sangat berterimakasih atas komentar kalian :)