Pria Idaman Lain Istriku


"Terimakasih karena telah mengkhianati aku selama ini, terimakasih karena telah merusak pernikahan kita, ternyata ini yang menyebabkan kamu sering minta cerai padaku, aku sendiri yang akan langsung mengurus perceraian kita!"

sumber gambar : msn.com

Dengan berurai air mata, Yuden mengucapkan kalimat tersebut kepada Osin, istrinya, yang tengah berduaan di sebuah kamar hotel dengan seorang pria lain tanpa mengenakan sehelai benang pun.

"Yah! Memangnya kenapa? Aku memang sudah muak sama kamu! Sejak menikah denganmu, kehidupanku berubah, aku tak bisa makan enak, aku tak bisa membeli semua barang yang aku suka, aku tak mau lagi mempunyai suami yang gajinya pas-pasan sepertimu! Dan yang paling penting, kamu tak bisa memberiku keturunan! Perempuan mana yang mau hidup dengan pria mandul sepertimu? Hahaha....."

Mendengar apa yang Osin katakan, air mata Yuden makin tergerus untuk keluar, tangannya gemetar dan hendak menampar wanita yang sudah ia nikahi selama 3 tahun itu, namun langkahnya ditahan oleh beberapa kerabat dari Yuden dan Osin. Yah, Yuden tidak sendiri ketika melakukan penggrebekan itu, dia membawa beberapa kerabat sebagai bukti kalau istrinya telah berkhianat.

Ia diam saja sambil terus menangis dan menatap dalam-dalam wajah wanita yang sangat ia kasihi itu, lalu ia melempar pandangan pada laki-laki yang telah menjadi pelukan baru bagi istrinya.

"Bro, pakai celana dan pakianmu. Aku minta tolong untuk tutupi tubuh wanita ini, tak enak dilihat banyak orang."

Setelah berkata demikian, Yuden langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut sambil menyekah air matanya yang tak kunjung mengering.

3 hari setelah kejadian naas itu, Yuden mendapat pesan di whatsapp dari sebuah nomor baru.

"Bro, aku minta maaf telah menjadi perusak hubungan antara kau dan istrimu, bisakah kita bertemu? Jika bisa, maka aku akan menunggumu di Cafe Ghaza yang di belakang pasar Oebobo itu, pada malam ini jam 7. Terimakasih!"

"Hmmm, mau apa dia?" Yuden membantin sambil mengerutkan keningnya.

Setelah berpikir cukup lama, Yuden pun akhirnya menyanggupi ajakan tersebut. Tepat pada waktu yang sudah ditentukan Yuden sudah di sana, dan seketika juga berpapasan dengan pria tersebut.

"Hallo, perkenalkan aku Jems, silahkan duduk."

"Ada urusan apa kau memintaku datang kemari?"

"Osin sering menceritakan banyak hal soalmu padaku."

"Lantas?"

"Aku hanya ingin meminta maaf secara langsung padamu, jujur, aku mencintai Osin, begitupun sebaliknya, kami sudah menjalin hubungan diam-diam selama satu tahun di belakangmu."

"Jadi kamu meminta ku datang hanya untuk memamerkan rasa cinta kalian?"

"Bukan..bukan itu saja, aku juga ingin memberitahukan padamu, kalau Osin berniat agar mempercepat pernikahan kami setelah perceraian kalian."

"Woww, selamat.."

Wajah Yuden terlihat memerah tanda marah, namun semua itu ia bungkam di dalam hatinya.

"Aku hanya ingin kamu melupakan Osin."

"Jika memang keputusan kalian untuk segera menikah secepat itu setelah perceraian kami, maka itu hak kalian, tapi untuk langsung segera melupakannya, itu sangat susah, namun akan ku coba jika itu mampu membuat Osin bahagia."

"Hmm, terimakasih bro."

"Aku sangat mencintai dia, tapi karena dia sudah memilihmu, maka aku siap menerima itu semua, tapi ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan padamu."

"Katakan saja..."

"Tolong setiap pagi ketika Dia bangun kecup keningnya, aku sering membuatkan sarapan berupa telur dadar dan roti bakar padanya, dia sangat suka itu, setiap siang aku sering membuatkan makan siang, lalu mengantarkannya ke kantor Osin tepat waktu agar dia tidak terlambat makan siang, setiap dia pulang kerja aku akan memijat-mijat kakinya, dia sering membawa pekerjaan kantor ke rumah, kadang ia sampai ketiduran di sofa, biasanya akan menggendong ia ke kasur lalu menyelimutinya, ketika ia terbangun tengah malam, elus-elus pipinya, maka ia akan kembali mengantuk, oh satu lagi ia sangat menyukai coklat panas, apalagi buatanku, sangat juara. Kamu harus belajar membuatnya. Masih banyak tapi itu saja dulu, semoga berguna buatmu."

"Hmm. Terimakasih, aku hargai itu semua, kalau begitu aku pergi dulu."

"Jems!"

"Iya bro?"

"Dia milikmu sekarang, tolong jaga dia baik-baik"

"hmm baiklah"

Ketika Jems berlalu, tanpa sadar, air mata Yuden keluar membasahi pipi. Ia seakan tak kuat mendengar apa yang Jems katakan tadi, namun ia berusaha untuk berbesar hati menerimanya.

Tiba waktunya pada hari dimana keputusan final perceraian akan dibacakan, Yuden dan Osin menyempatkan diri untuk hadir. Hakim mengetuk palu dengan keputusan mereka berdua resmi bercerai, Yuden terlihat hanya diam dan murung, berbeda dengan Osin yang tersenyum lebar bahagia sambil memandang Jems karena kegirangan.

Yuden lalu mendekati Osin dan memberikan selamat padanya, setelah itu dia pun berlalu dari situ.

2 bulan setelah perceraian itu, Osin dan Jems pun melangsungkan pernikahan.

"Hm... kau nampak sangat bahagia, selamat yah! Aku doakan kamu dan Dia selalu bahagia." Yuden membatin sambil melihat foto-foto pernikahan yang di unggah Osin di akun instagramnya.

Yuden yang tak bisa menahan rasa sakitnya itu pun menjual rumah yang pernah ia dan Osin tempati, kemudian pergi jauh ke kota Soe, membangun kehidupan baru demi mencari ketenangan di sana.

5 bulan berlalu setelah pernikahan, Osin dan Jems masih terlihat begitu sangat bahagia.

Pada suatu pagi, Osin keluar rumah untuk membuang sampah, tak sengaja ia berpapasan dengan beberapa ibu-ibu tetangga yang sedang asik bercerita di depan kios.

Salah satu dari mereka melempar pertanyaan pada Osin.

"Kak menikah dengan sesama jenis itu enak yah?"

"Maksud ibu apa?"

"Kalian lesbian kan? Jems kan tomboy!"

"Ibu kalau bicara jangan sembarangan! Saya bisa tuntut ibu ke polisi nanti!"

"Loh, kamu tidak tahu? Satu daerah sini juga tahu kalau Jems itu tomboy, nama aslinya itu Jenny. Dia memalsukan identitas aslinya, bahkan hingga KTP dan semuanya tentang dia palsu. Silahkan saja, saya tak takut!"

Mendengar hal itu, Osin lalu meninggalkan mereka dan masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk.

Dia ingin bertanya langsung pada Jems, namun ia takut kalau Jems akan marah-marah mendengar hal itu.

Ia menunggu waktu yang tepat hingga Jems keluar rumah, barulah ia akan mencari tahu benar tidaknya perkataan ibu tadi.

Sesuai dengan perkirannya, James keluar untuk bertemu dengan teman-temannya. Kesempatan itu ia pakai untuk membongkar isi lemari dan barang-barang Jems.

Dengan teliti, ia memeriksa semuanya, matanya tertuju pada suatu map batik, dimana map tersebut berisi ijazah-ijazah sekolah dan berbagai data diri Jems yang sebenarnya.

Betapa kagetnya dia ketika melihat kebenaran yang ia temukan, seketika ia menjadi marah.

Jems yang tiba-tiba pulang karena melupakan laptopnya juga kaget dan langsung memarahi Osin ketika melihat istrinya itu membongkar isi lemarinya.

"Pembohong!"

Plaaak..

Sambil menangis Osin menampar pipi Jems.

"Sayang, aku bisa jelaskan semuanya padamu!"

"Aku tak mau mendengar segala yang keluar dari mulut kotormu itu, aku jijik!"

Osin lalu mengemasi barang-barangnya meski sempat ditahan oleh Jems. Tak sengaja ia menemukan sebuah kayu halus yang dilapisi bahan latex, kayu tersebut diukir layaknya batang kemaluan pria dewasa, ia lalu berpikir benda itu yang selama ini digunakan oleh Jems ketika bercumbu dengannya. Osin lalu mengambil kayu tersebut dan melemparkan ke tubuh Jems lalu pergi meninggalkannya.

Beberapa saat terluntang lantang di jalan, tiba-tiba dia teringat akan Yuden, dia teringat akan kebaikan dan kasih sayang Yuden yang begitu tulus saat masih bersamanya dulu.

Sontak, air mata penyesalan keluar dengan cepat, ia mengambil HP lalu mencoba mencari nama Yuden di daftar kontak dan menghubunginya, namun nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.

Ia lalu menelpon seorang kerabat Yuden.

"Hallo Itis.."
"Hallo, dengan siapa ini?"
"Ini aku, Osin."
"Maaf aku sedang sibuk!"
"Please, jangan matikan teleponnya, aku hanya ingin bertanya di mana Yuden sekarang!
"Mau apa lagi? Mau buat dia kecewa lagi?"
"Aku minta maaf, aku menyesal Tisss...
"Hmmm, Yuden di Soe sekarang."
"Kamu ada alamatnya?"
"Ada, tapi aku sarankan kamu jangan ke sana."
"Kenapa?"
"Kamu akan menyesal nantinya."
"Aku sudah sangat menyesal meninggalkan dia, aku mau kembali padanya.."
"Hmm. Ok aku sms kan alamatnya padamu."
"Terimakasih Itis..."

Tut tut tut....

Setelah telepon di akhiri, Osin lalu menumpang travel ke Soe, setibanya di sana, sambil menenteng tas kulit besarnya, ia kemudian mencari alamat Yuden.

Beberapa jam setelah mencari, akhirnya ia menemukan rumah 3 lantai bak istana milik Yuden, betapa takjubnya ia ketika melihat perubahan itu. Ia pun langsung menuju ke arah pintu dan menekan bel.

"Halloooooo, oh, kamu,"nampak Yuden sendiri yang membuka pintu tersebut

Osin terpana melihat kondisi Yuden yang berubah drastis,"

"Iya ini aku,"
"Silahkan duduk, darimana kamu mendapat alamatku?" Yuden langsung mempersilahkan Osin duduk di teras sambil menanyainya.

"Dari Itis, Bagaimana keadaan kamu."
"Oh...Seperti yang kamu lihat, aku sangat baik.."
"Syukurlah, aku mau bilang sesuatu."
"Apa itu?"

"Aku sangat menyesal, aku benar-benar menyesal menduakanmu. Aku masih sangat mencintaimu.."

"Hmmm, maaf aku sudah tidak mencintaimu lagi!"

"Aku mohon, aku ingin kembali padamu."

Osin lalu berlutut sambil menangis dan memohon kepada Yuden agar menerimanya kembali.

"Siapa pah?"

Tiba-tiba dari dalam rumah keluar sosok perempuan cantik dan tinggi, dengan perut yang sedang membuncit.

"Ini siapa Yuden?"
"Perkenalkan, ini Ella, Istriku! Itis tidak bilang kalau aku sudah menikah?"
"Ohhh, tidak!"

"Ini siapa pah?" Istri Yuden balik bertanya,

"Ini mantan istriku mah yang pernah papa ceritakan."

"Oh..mari masuk, aku ambilkan minum dulu,"

"Ah tidak usah, istrimu mengandung?"

"Iya."
"Anak kamu?"
"Tentu saja anak aku."
"Bagaimana mungkin?"

"Hmmm, sebenarnya aku tidak mandul, sebenarnya dirimulah yang mandul, aku menyembunyikannya darimu karena tak mau melihatmu bersedih, aku menyimpannya rapat-rapat karena aku sangat mencintaimu waktu itu."

Mendengar hal tersebut Osin lalu pergi meninggalkan Yuden dan istrinya dengan penuh penyesalan yang besar. (TAMAT)

cieeee baper cieeeee emosi cieeee senang cieeee tak bisa menebak :D
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

cerita ini dikarang oleh : Christian Y. S. Giri

0 komentar

Posting Komentar

Sejauh ini hanya 10 % komentar yang disetujui di blog ini maka berkomentarlah dengan bijak dan sesuai konten, komentar spam akan diblokir. harap mohon pengertiannya dan saya sangat berterimakasih atas komentar kalian :)