Puisi-Puisi Surya Andika Prawiro; Antara Gunung Bromo dan Pulau Komodo

Antara Gunung Bromo dan Pulau Komodo

Bung ,lihatlah apakah padang pasir itu terlalu luas untuk mu
Suara hati yang kembali bertanya saat ku menuju ke situ
Ku melihat sesuatu yang baru dan langsung menyentuh kalbu
Lalu gumamku di sinikah surga yang diceritakan itu?

Di kakinya, ku melihat sejuta lukisan yang menggoda
Kata mereka, aku kan merugi jika ku kembali pulang
Sempat mengiyakan untuk mantap hati dan tubuh  di sana
Apalagi saat ku jatuh cinta dengan bidadari penghuni mata

Waktu berlalu, tiba tiba angin itu membuatku rindu
Entah apa yang menatapku dan tersenyum tersipu malu
Suaranya tak asing di telinga seakan membalas asah yang tersuluh
Namun Ku tetap terdiam bersama si Ayu dari gunung bromo itu

Tiba tiba saja semakin kuat gaung di telinga dan menari
Ku panggil si Ayu kemari dan berusaha untuk tidak sendiri

Ya tidak sendiri…
untuk mengingat cinta di gunung Bromo
Dan rasa rindu untuk kembali bercerita mulai dari pulau Komodo

...................................................................................................................................................................

Sang Saka dan Waktu

Waktu sudah sekian lama berlalu menutup buku
Namun kini ku cari, ku rindu, dan ingin ku tahu
Dia menunjukku dan bertanya bertalu talu
Ku tertunduk seakan malu menyusun kata satu demi Satu

Kulihat kau begitu hitam pekat di balik lemari dan melekat
Ku mendekat, ku pastikan kau yang ingin ku dekap
Warnamu tak lagi seperti cerita nenek moyangku dahulu
Walau begitu kau bagian dari perjalanan bangsaku

Berdiri di sebelahmu, dan menangis di dekat putihmu
Tak ingin lagi ku melihat merahmu menjadi lusuh
Akan ku bawa pulang, ku naikkan ke puncak tertinggi
hormatku pada dirimu sang saka  yang kucintai

Jika ada yang ingin menurunkanmu untuk nafsunya
Dapat dipastikan darahnya akan bersatu dengan tanah
Karena belum sampai tangannya menyentuhmu
Kepalanya akan ku buat berpindah dari tubuh

Benderaku apakah engkau sedang menangis?
Melihat mereka yang bengis
Apakah hatimu teriris saat kau tak lagi di hati terlukis?
Sampai di sini aku akan bertindak sadis agar kau tetap di atas langit

...................................................................................................................................................................

Mantan dan Sampah

Luka…
Dalam, gelap dan Sakit
       
Cinta...
tenggelam, pengap dan terhimpit
Ya memang benar obat yang manjur kadang pahit
aku merasa ada bagian kain di tubuh yang harus dijahit

Sumpah kau itu sampah dan janganlah berubah
Melihat kau menderita adalah cita cita saat dewasa
Kau Mati dan celaka adalah lelucon yang aku damba
Apalagi saat aku mengudara dan dirimu tidur di tanah

Tiba tiba saja ku dengar ada suara dari atas sana

Hey sampah,
Sampah
Sampah ya kau sampah

Aku bertanya, Tuhan apakah itu panggilan untukku?
Tidak, AKU hanya ingin memanggilmu sesuai inginmu

Debatku tak lagi sesama ciptaan di dunia
Aku lemparkan protes lewat udara waktu ku berdoa
Tuhan dia yang mulai, Tuhan di yang membuatku luka
Seribu salahnya memantaskan ia, ku anggap sampah

       
Dalam tidurku pencipta menyapa mimpiku dengan cinta kataNya,
AnakKu hanya tidak bersama bukan berarti kau lebih mulia
Jika kau ingin berbeda, maafkanlah ia dan cintai masa depanmu
Aku tetap mencintaimu bahkan saat kau sedang melukaiKu


Tidurku seakan tak nyenyak dan air mata sudah tumpah
Aku menyesal menggapnya sampah hanya karenaku terluka
Ku menghadap ke atas lalu berteriak dengan nada dan irama

Kataku, Tuhan buat ia bahagia, aku sudah mengerti arti CINTA

...................................................................................................................................................................

Ruang Kosong

Aku tertalu lelah sepertinya untuk terjaga saat ini
kini sendiri tanpa dia lagi yang pergi dan tak kembali
pagi ku tak mungkin dapat diraih dan diwarnai
sepertinya malam telah jadi sahabat yang abadi

Bukan karena ku tak bisa lagi cerita, dia telah bawa pergi segalanya
Apalgi yang harus ku bicarakan, cinta ? hahhaha  lucu anda
Kopiku dimana? Apakah seseorang sengaja membuatku tambah menderita
Ayolah, hanya air hitam tanpa gula itu, temanku bercerita
       
Mungkin Bulan menertawakanku dengan tawanya khasnya
Berlindung di balik awan dan terbahak bahak mencela di atas sana
Bisa saja bintang yang begitu ramai tak sudi ada di atas kepala
Lalu matahari berbisik, di telinga yang membuatku takkan betah


Biarkan saja ku sendiri di dalam ruangan  kosong
Silahkan saja anjing mengonggong dan melolong
Sudah biasa ku terdiam dan melihat jendela dengan bengong
Terimaksih, setidaknya akulah tuan di dalam ruang

...................................................................................................................................................................

Cinta dari Timur

Pesan berantai ku teriakan dari Timur
Kawanku, dengarkanlah dan jangan tertidur
Lebur dalam jujur aku ingin berbaur
Kuharap alurku tak lagi terbentur

Adakah senyumku menjadi dukamu?
Atau sapaku sudah menjadi semu
Aku ingin menyalamimu dan bertemu
Walau beda, ku ingin kita bersatu

Ketika pilihan berbeda satu dan dua
Apakah kau lupa ada angka tiga?
Jika tinta bisa jadi pemisah
Mengapa pena tak lagi ada kuasa?

Doa sepertiga malamku untukmu kawan
berbulan bulan kita tertawan perbedaan
mari kita lawan layaknya pahlawan
Karena tanah ini bukan milik bangsawan

Dengar, rindu ini dari timur kaka
Beta talalu sayang katorang semua ,
Senyum, salam sapa mungkin Katorang beda
Tapi Indonesia akan selalu tetap satu jua

...................................................................................................................................................................

Surya Andika

Chritis Ghaza
Belajar seumur hidup, menjadi murid selamanya

Related Posts

Posting Komentar

Loading...
Masukkan emailmu untuk mendapat pemberitahuan artikel terbaru