Kuntilanak Itu Istriku (Part 5)

KUNTILANAK ITU ISTRIKU


Part 5


"Tapi ini hutan, bagaimana kalau ada hewan buas atau hantu yang menganggu kamu?"

"Hahahaha hutan ini rumahku."

"Apa maksudmu?"

"Sudahlah, malam ini mungkin kita kan berjumpa lagi "

"Darimana kamu tahu kita akan berjumpa lagi?"

"Segala kemungkinan bisa terjadi kan?"

"Hehehe iya Litha."

"Baiklah aku permisi dulu."

Sosok wanita bernama Litha itu lalu berjalan meninggalkan Deddy seorang diri di tengah hutan.

Litha lalu memalingkan wajahnya dan memberikan senyum datar ke arah Deddy lalu hilang dari pandangan karena dihalangi pepohonan dan semak belukar.

Setelah pertemuan yang tak biasa itu, Deddy langsung kembali ke rumah pak Gusty. Dalam perjalanan pulang ia diserbu beribu pertanyaan yang belum bisa diterima akal sehatnya.

"Litha, hm... nama yang cantik. Sangat cantik seperti wajahnya. Namun dia sangat misterius, Mengapa dia begitu yakin malam ini kami akan bertemu lagi? Dan selendang itu? Aaaaaaah...sialan, pikiran ini hanya berputar di kepalaku."

Sesampainya di rumah pak Gusty, Deddy langsung meraih handphone yang bergetar.

"Hallo Itis..."

"Gimana bro aman?"

"Sialan lu bro, mengapa tak beritahukan dari awal kalau syaratnya harus menikah sama kuntilanak?"

"Hahaha kalau aku beritahukan sejak awal, mungkin kamu tak akan berada disitu kan bro?"

"ta ta tapi bro..."
"Tapi apa bro?"
"Aku takut bro!"
"Hahaha, masa takut sama wanita bro?"

"Sialan lu bro, wanita yang ini kan beda."

"halaaaah intinya tetap wanita kan daripada dinikahkan sama sesama jenis hahaha"

"Kurang ajar kau bro."
"Jadi kapan nih kalian nikah hahaha..."

"Iblis lu, dari dulu gilanya tak hilang-hilang juga kau bro, menurut pak Gusty malam ini ritualnya dimulai. Tapi aku takut sekali."

"Tidak perlu takut, awalnya aku juga begitu. Tapi sekarang? Aku punya segalahnya, dan jika tidak mengambil resiko ini bisa jadi Anni dinikahkan dengan orang lain, mau lu bro?"

"Iya sih bro, tak mau lah tapi yakin aman kan  bro?"

"Percaya bro pasti aman, ya sudah aku harus ke kosan si Revhan Wawyn soalnya dia baru tiba dari Lembata tadi sore."

"Ok makasi bro. Titip salam buat Revan, sampaikan kalau aku menagih moke hehehe"

"Sip bro akan disampaikan, tapi ingat ya bro kamu harus bisa menahan bau amis."

"Maksudnya bro?"

"Tuuuutt tuuuut tuuut..." Itis langsung menutup telepon dan menambah babak baru dalam pikiran Deddy.

"Sialan orang gila itu, baru saja pikiranku mulai sedikit tenang, malah dia menambah beban pertanyaan dalam pikiranku. Bau amis apa yang dimaksud Itis? Hmmm haaah... apakah ada kaitannya dengan mimpiku tadi malam? Hm tidak... tidak... aku tidak harus memikirkannya, pikiranku bisa lebih menderita dari realita itu sendiri nantinya."

"Sudah pulang kamu?" Ucap pak Gusty memecah lamunan Deddy.

"Eh pak Gusty, hehe iya pak baru beberapa saat. Itu apa pak yang di kain putih kok baunya agak busuk?" Imbuh Deddy sambil menutup hidungnya.

"Nanti malam baru kamu lihat sendiri."

Semua yang muncul di depan mata Deddy makin membuat perasaan dan pikiranya seperti di aduk dalam kesakitan yang seolah membuat kepalanya akan meledak.

"Baik pak saya permisi mandi sebentar."

"Hmm..." jawab pak Gusty singkat sambil melangkahkan kaki ke kamarnya membawa bungkusan di dalam kain putih kotor tersebut.

Selesai membersihkan diri Deddy membaringkan dirinya di atas kasur sambil mengutak-atik handphonenya.

Dia mengusap layar handphonenya yang tampak foto Anni sedang tersenyum genit di wallpaper.

"Sayang, tunggu aku. Aku akan kembali padamu, mmmmuah. Deddy mengecup layar handphonenya seakan dia mengecup bibir kekasih hatinya itu.

Tak lama Deddy pun tertidur, rupanya hembusan angin sepoi dari luar jendela dan rasa kelelahan yang membuatnya diserang kantuk.

"Deddy bangun, Deddy!"

"Huaam...maaf pak saya ketiduran, sudah jam berapa ini?" sahut Deddy sambil mengucak matanya yang masih setengah terbuka.

"Sekarang sudah sudah hampir jam 12 malam, persiapkan dirimu waktunya sudah dekat."

"Lama juga saya tertidur, baik pak saya cuci muka dulu."

Deddy menuju perigi di samping rumah dan mencuci mukanya. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah.

"Ikuti saya." ucap pak Gusty sambil menenteng seekor ayam kampung hitam dan bungkusan dari kain putih berisi sesuatu yang tak diketahui.

Mereka berjalan menuju ke arah pohon beringin besar di depan rumahnya.

Sesampainya di depan pohon beringin, pak Gusty membuka membuka bungkusan kain putih tersebut dan keluarlah aroma busuk menyengat dan di dalamnya terdapat gumpalan daging berupa usus yang panjang tak diketahui usus manusia ataukah hewan, serta di dalamnya terdapat sebuah tulang kaki hewan tak tahu pula tulang dari hewan apa yang digunakan. Usus tersebut lalu dililitkan ke tulang tadi seolah diikat.

Pak Gusty lalu menggigit leher ayam kampung itu hingga keluarlah darah hitam segar bukan merah. Mungkin beliau menggunakan ayam kampung khusus untuk ritual ini, darah tersebut ditampung pada sebuah wadah yang terbuat dari batok buah kelapa, setelah itu darah tersebut dilumuri pada tulang yang sudah dililit oleh usus tadi dan menancapkannya di atas tanah tepat di depan pohon beringin dan sisanya dioleskan pada wajah Deddy.

chritisghaza.net
kuntilanak itu istriku part 5, sumber : chritisghaza.net


"Silahkan kamu duduk bersila, tolong tahan jika tercium bau amis dan jangan takut jika kamu melihat sosok yang menyeramkan." ucap pak Gusty mengingatkan.

Pak Gusty lalu duduk bersila membelakangi Deddy dan mulutnya komat-kamit membaca mantra yang tak jelas artinya apa.

Beberapa saat kemudian, angin mulai bertiup kencang dan udara dingin mulai menusuk hingga ke tulang.

Tercium aroma amis anyir yang sungguh membunuh indera penciuman, Deddy terbayang akan ucapan Itis tadi siang agar menahan aroma amis jika tercium. Terlebih lagi pikirannya melayang jauh ke mimpinya malam itu.

Secara bersamaan muncul lah sosok wanita dari balik pohon beringin menggunakan gaun berwarna merah dengan setengah wajahnya terdapat luka dan lubang mengangah serta terdapat banyak belatung yang merayap keluar masuk dari luka wanita itu. Sosok tersebut persis seperti di dalam mimpinya.

Wanita itu lalu mendekat ke arah pak Gusty lalu beliau menunjuk ke arah tulang yang dililit usus tadi. Sosok tersebut lantas mengambil tulang yang dililit usus dan memakanya dengan sangat rakus.

Penampakan mengerikan itu membuat Deddy mual dan hampir memuntahkan isi perutnya, namun tetap ditahan.

Setelah wanita tersebut melahap habis semua usus tersebut, pak Gusty lantas menunjukkan jarinya ke arah Deddy.

Deddy yang ketakutan hanya bisa mengunci mulutnya sambil menutup mata saat wanita itu mendekatinya. Sosok itu lalu berjalan mengitari Deddy, perlahan dia berpindah ke depan Deddy dan mengelus wajah Deddy menggunakan kukunya yang hitam dan panjang. Aroma amis begitu tajam menusuk hidung, karena tak sanggup menahannya Deddy lantas memalingkan kepala dari sosok mengerikan itu.

Belatung-belatung dari mulut wanita itu berjatuhan di atas kepala Deddy dan merayapi wajahnya, tak ayal Deddy pun berteriak sekencang-kencangnya karena ketakutan sambil mengusap-usap wajahnya agar belatung-belatung itu menghilang.

"Deddy, Deddy, Deddy! buka matamu" ujar pak Gusty sambil memegang bahu Deddy untuk menenangkannya.

"Kuntilanak merah bersedia menikah denganmu, sekarang dia sudah menunggumu di dalam."

"Apa pak? tapi saya takut sekali pak."
sambung Deddy sambil menggenggam erat tangan pak Gusty

"Tak apa, mari ku antar."

Pak Gusty lantas menuntun Deddy ke dalam rumah dan membawa Deddy ke ruangan yang lain. Deddy sungguh tak menyadari ada ruangan lain di dalam rumah tersebut.

"Masuklah." Sahut pak Gusty.

"Dengan langkah kaki yang bergetar, Deddy perlahan memasuki ruangan tersebut,ia begitu kaget dan terperangah dengan sosok di dalamnya.

"Lit.. Lit.. Lithaaaaaa...."

bersambung ke part 6

Chritis Ghaza
Belajar seumur hidup, menjadi murid selamanya
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar

Loading...
Masukkan emailmu untuk mendapat pemberitahuan artikel terbaru